Puisi Mesra Dalam Romantisme


Puisi-Puisi Gina Hayana

Puisi Mesra | Sisi Romantis Kehidupan

 ♥♥♥

JIKA

Jikalau boleh aku memberi
Ingin kuberikan sebuah hati
Penuh cinta serta kasih

Jika boleh aku meminta
Ingin kupinta sebutir cinta
Di dalamnya tertanam setia

 ♥♥♥ 




CINTA MESRA DALAM NYANYIAN PASIR | Puisi Mesra Seorang Lelaki


HAI KENAPA kau masih di sana?



Kemarilah. Bermainlah bersamaku. Pasirnya putih dan ombaknya berdebur.



Datanglah kemari bagai dahulu. Kaki kita akan menari di antara ombak merayap; dan tangan kita menuliskan sesuatu di bibir pantai ini, seperti anak kecil yang tak terusik hari esok.



Tahukah engkau? Saat menggengam tanganmu, aku merasa Tuhan mengalirkan air cinta dan mengumpulkannya di telaga dalam jiwaku. Dan saat berjalan bersamamu di antara pecahan ombak, aku menyadari bahwa hidup ini begitu ringan dengan kehadiranmu di sisiku.



Bila engkau lingkarkan kedua tanganmu ke leherku, sementara kita menari bersama nyanyian ombak, maka aku tahu bahwa kehidupan adalah kebahagiaan.



Bila kau pijakan kedua kakimu pada punggung kakiku, aku mengerti kehadiranku bermakna kala kuberikan untukmu kedamaian.



Dan bila keningku bersentuhan dengan keningmu - meskipun sesaat - aku menanggung firasat bahwa jiwa ini akan sedih serta kehilangan seandainya engkau pergi dariku. Aku begitu menyayangimu.



Kemarilah wahai Penghangat hati! Mata ini tak pernah lepas memandangimu. Sesungguhnya bila ada yang bernama keanggunan, maka itu adalah dirimu: berjalan di speanjang garis pantai sembari mengangkat ujung pakaian sedangkan wajahmu berseri dan tawamu berderai bagai kepolosan yang datang dari masa kanak-kanak. Teramat indah. Teramat indah bagi seorang lelaki sepertiku.



Jikaku mempuisikan namamu. Mataku mengukirkan pancaran keindahanmu. Dan manakala bibirku tersenyum takjub, seluruh pancaran kedamaian darimu kupetik satu persatu satu; kusimpan dalam sebuah kotak kaca yang gagangnya berupa setangkan bunga langka.



Tak perlu membukanya, cukup memandangainya saja sudah membuatku melupakan segenap yang bernama keresahan.



Kemarilah. Biarkan saja angin menyentuh hitam rambutmu juga wajah ayumu. Mungkin ia cemburu sebab Tuhan mengaruniakan kecantikan padamu. Jangan berhenti berjalan. Bergeraklah. Sebab setiap gerakan tubuhmu mampu menggubah puisi melalui jari jemariku.



Puisi itu telah kupajang pada dinding jiwaku. Tolong jangan kau sentuh. Karena segala yang kau tersentuh olehmu akan berkilau tak ubahnya mutiara.



Saat ujung jemari lentikmu menyentuh kata-kata, maka kata-kata itu menemparkan diri dalam bentuk puisi terindah yang dapat tercipta; maka bergemericiklah nada-nada kedamaian, menuruni lereng dadaku.



Oh, engkau ternyata adalah tambatan hati! Duduklah di batu berbongkah-bongkah itu. Aku sedang mabuk kepayang. Jangan kau tambahkan lagi kucuran kecantikan pada benakku. Biar aku yang mendatangimu.



Ah, tetapi cara dudukmu saja sudah melampaui keanggunan para puteri; melebihi kedamaian para paderi; dan mempesona layaknya seuntai kalung yang melingkar di leher bidadari.



Dengan semua alasan itu, bagaimana aku tidak berbahagia. Dan aku tak mungkin tertarik dengan perempuan-perempuan yang berdandan berlebih-lebihan, yang mencari perhatian dengan mengeluarkan banyak omongan, atau tertawa keras untuk menunjukan kehadirannya.


Pesona jiwamu mengikat jiwaku. Kedalaman cintamu menautkan cintaku padamu. Dan kedamaian murni itu senantiasa menyejukan alam pikiranku. Mereka yang berusaha menampilkan kemolekan zahir tidak pernah mengerti bahwasannya yang mereka pikat hanyalah pandangan mata, bukan jiwa.



Seharian ini aku begitu rindu pada senyumanmu. Bukan! Bukan sekedar senyuman, tetapi saat dimana aku leluasa memandangi indahnya wajahmu.



Aku ingin terus bercengkrama bagai dulu; di bawah cahaya rembulan atau di tepi hari ketika senja hampir surut. Di sebuah bangku, kita duduk berdekat-dekatan. Bukan saja tubuh, tapi juga jiwa kita. Pohon cinta memerlukan perawatan, agar tetap subur dan bungannya mekar. Agar keharumannya tetap menyegarkan hari-hari yang kujalani.



Sekuntum Cinta akanlayu sebelum mati jika dibiarkan terkubur oleh kesibukan masing-masing. Maka tinggalkanlah semua pekerjaanmu dan duduklah dengan tenang bersamaku.



Hari ini kita akan mengenang bagaimana cinta mempertemukan manusia dengan kebahagiaan. Aku juga ingin mengenang seorang gadis jelita yang kini mendampingi kehidupanku; seorang gadis yang pernah membuat hatiku berdetak tak menentu. Dan tatapannya begitu indah karena ia memiliki bola mata yang bergerak dengan jelita.



  ♥♥♥ 


HATI SEORANG GADIS | Puisi Mesra Seorang Wanita




Aku hanyalah seorang wanita. Ya hanyalah seorang wanita. Lihatlah diriku malam ini. Seorang wanita dengan manis senyumannya. Jangan kau lihat aku sebagai seorang Ibu dari anak-anakmu; jangan kau lihat aku sebagai wanita hebat dalam kehidupanmu; oh jangan...



Malam ini aku ingin bermanja denganmu. Aku memiliki hari seorang gadis yang ingin berteduh di sampingmu; merasa tentram berada dekat denganmu; engkau lah peneduh jiwaku. Peluklah aku. Manjakan diriku. Belailah rambut kesayanganku.



Aku tahu, aku adalah seorang wanita yang menemukan kekasih impiannya; yang senantiasa menyayangi diriku, memuji, meredakan bila marah, meneduhkan saat gelisah, menuntutnku menuju hari-hari yang semakin berbahagia.



Aku masih ingin bersandar dalam pelukanmu. Dan, biarkan aku bercerita sesukaku. Dengarkan saja. Aku ingin bercerita tentang laut luas dan ombaknya, tentang pasir putih dan bentangan indahnya, tentang pohon-pohon di hutan yang pernah kita singgahi, tentang anak sungai dengan gemericiknya.



Aku juga ingin bercerita tentang khayalan-khayalan masa remajaku dulu; tentang impian bertemu lelaki tampan yang menyayangiku sepenuh hati, tentang kebanggaanku akan wajah yang Tuhan anugerahkan kepadaku.



Masihkah kau mendengarkan...?



Bagiku, engkau bagai telaga luas tempat istirahku. Aku letih. Aku lelah. Tetapi telaga itu begitu sejuk. Dan dari kejauhan dapat kuhirup segar udaranya. Maka biarkan aku menjadi gadismu; setangkai bunga cantik yang kesegarannya tak pernah layu.



  ♥♥♥
 

NYANYIAN JIWA | Puisi Mesra dengan Pesan Tentang Kecantikan Hati




JANGAN cemaskan diriku. Aku masih memiliki butir-butir cinta dalam hatiku. Dan selalu kujaga agar tumbuh dan berkembang. Lalu kupersembahkan untukmu.


Kau tahu, kuingin menemukan seorang gadis cantik dalam diriku. Yang membuat mimpi-mimpimu menjadi nyata; yang memberikan apa yang membahagiakan dirimu; dan menyalakan api semangat di hatimu.



Aku ingin menjadi orang pertama yang menyambut hari-harimu manakala pagi pecah. Dan kuberikan senyuman yang membuatmu bahagia karena memiliki teman hidup seperti diriku.



Dan jika petang tiba, akan kutemani dirimu duduk di kursi kayu itu menanti cahaya matahari berubah merah keemasan. Aku kan duduk di sampingmu, mendengarkan kekagumanmu pada lukisan senja, pada keindahan gumpalan awan putih yang bergulung-gulung; juga awan-awan tipis bagai helai selendang para peri.



Pada bahumu kujatuhkan berat tubuhku. Dan jika kau menatapku, senyuman adalah jawabanku. Kubiarkan diriku hanyut saat bersandar padamu. Dan jika angin tak cukup lembut berhembus, belaianmu sudah cukup memenuhi hatiku dengan keteduhan.



Aku adalah setangkai ranting yang apabila dipatahkan maka hilanglah keindahan sepohon bunga. Apabila ada cerita tentang dirimu, di sanalah hadir cerita tentang diriku.



Dengarkanlah. Kucoba selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari. Engkau tahu betapa banyak hari yang telah kita lewati. Tetapi hari ini dan hari esok tak ada artinya bila tak lebih baik dari hari yang telah lewat. Lihatlah bagaimana aku senantiasa berkembang dari arah yang paling indah. Ucapan, pikiran, perasaan, dan kepribadian akan semakin cantik.



:: Sebuah Pesan dalam Kehidupan



Kemarin ada sebuah pesan indah. Pesan yang datang begitu halus dalam getar-getar jiwa. Dalam diam jiwa itu berkata dan aku setia mendengarkannya. Ketika itu hatiku baru saja risau sebab seseorang melukainya dengan kata-katanya. Kedua bolah mataku ingin menumpahkan air mata. Tetapi aku menahannya. Bibirku ingin membalas kata-kata yang tak pantas itu. Ketika itulah suara jiwa itu menggeletar ke seluruh ruangan.



Demi mendengarnya, aku memutuskan untuk tidak membalas keburukan yang ditimpakan padaku. Tidak. Aku tak akan membalas keburukan itu degan keburukan yang sama.



Cukup diriku saja yang merasakan pedihnya dicaci maki. Jangan membuat orang lain merasakannya juga. Begitulah pesan yang kuterima itu.



Jika ada orang yang menyakiti, jangan balas menyakitinya. Cukuplah diriku yang merasakannya. Jangan biarkan orang lain merasakan penderitaan meskipun dia menyakiti diriku.



Begitu pula jika ada seseorang yang yang berbuat tidak baik, dan diriku sedih karenanya, jangan pernah menimpakan kesedihan yang sama padanya. Semampu mungkin, jangan sampai orang tersebut mengenal penderitaan yang pernah kuderita.



Kehidupan ini akan bermakna manakala mengikhlaskan diri memberikan kebaikan pada orang laon; memasukan kebahagiaan ke dalam hatinya; dan mencegah kesedihan yang pernah menimpa kita menimpa mereka juga.



Aku tahu, apapun yang orang lain perlakukan terhadap diriku, kepentinganku adalah tetap membuatnya bahagia dan mencegah sentuhan kesedihan memberati kehidupannya. Aku percaya bahwa Allah menurunkan kebahagiaan yang tak dapat dipatahkan oleh apapun kepada orang yang mempercantik keluhuran budinya.



Aku tak akan membatalkan diriku menjadi orang baik karena orang lain tak berbuat baik padaku. Bunga-bunga tetap berseri meskipun tak sebuah matapun melihatnya. Ia adalah bunga cantik. Dan akan selalu cantik tak peduli apapun yang terjadi di sekitarnya.



Betapa sempitnya jiwaku bila menyia-nyiakan kesempatan ini. Tuhan menyediakan waktu agar aku melakukan hal-hal baik, tetapi aku membatasi kebaikan diriku sendiri.  Tuhan menyediakan surga dan pahala tak terbatas. Apakah pantas diriku membatasi hadiah dari-Nya?



Kekasihku, bantulah diriku ini menjadi pribadi yang amat mencintai kebaikan. Aku tahu Tuhan telah memberikan diriku segalanya. Aku bahagia dibuatnya. Aku ingin menjadi hamba yang berterimakaih, bersyukur kepada-Nya. Dan seluruh kebaikan yang kulakukan untukmu adalah salah satu cara membalas kebaikan dari-Nya.



Engkau mungkin telah mendapati diriku selalu menyiapkan pakaian yang akan kau kenakan, menyiapkan sarapan dan secangkir minuman hangat di pagi hari, dan apabila menatapku kau temukan diriku senantiasa bersama senyuman hangat untukmu. Bila kau pulang, rumah akan menjadi surga kecilmu. Salam, cium, dan peluk hangat menyambutmu.



Segalanya kulakukan sebagai cara bersyukur atas segenap karunia dan rahmat-Nya. 


 ♥♥♥  

Puisi Mesra adalah obat jiwa.  Kemesraan dibangun dengan jejahan cinta sedemikian dalam. Di balur rindu dan kasih sayang. Sebagai rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. 

Kemesraan adalah mutiara. Indah namun tak semua bisa memilikinya. Hanya dengan keikhlasan saling menerima. Segalanya tumbuh dalam sentosa. 

Maka kupuisikan kemesraan ini. Dalam madah puisi hati. Agar ada jiwa terwakili. Mengatakan apa yang dirasakan dalam diri. 


Kiriman atau Permintaan Puisi dapat dikirimkan kepada gina.hayana@gmail.com

Salam Takzim.







Related Posts

Previous
Next Post »