Pantun-Pantun dan Puisi

SENJA INSPIRATIF

Tatkala senja perlahan-lahan turun, rasa sepi telah semakin jauh menyusup ke urat nadi gadis itu. Hatinya semakin layu. Ia merasakan suara tangis dari kedalaman. Namun sedikitpun air matanya tak menitik.

Dan ketika malam menjatuhkan jubah hitamnya, keletihan memaksa tubuhnya terbaring lemah. Iapun berbaring sembari menatap langit-langit kamar. 

Lalu tiba-tiba, seiring angin yang berdesir di antara dedaunan, seirama dengan satu detak jantungnya, ia merasakan bahwa dirinya harus bangkit. Ia duduk sembari menatap wajahnya. Ia juga menatap masa lalunya dimana ia melihat seseorang yang memiliki ketangguhan gunung, kekuatan laksana batu karang, dan semangat tiada henti bagaikan ombak berdebur di lautan. 

Seketika itu seulas senyuman tercipta sedemikian indah. Bunga-bunga merekah di taman hatinya. Bagai musim bersemi, segala sesuatunya nampak lebih berwarna dalam kecerahan yang paling sempurna. 

Matanya baru saja membaca bait-bait indah dari sastra lama yang hampir terlupa. Mulanya biasa saja. Namun semakin mendalami semakin ia mengerti...

Ada sejarah terselip di antara pantun, tentang pikiran-pikiran nenek moyang yang dibaluri kearifan. Gadis itu terpesona karena pantun adalah sebutir pasir yang bisa menjelaskan kehidupan suatu  bangsa. Ia seolah dapat menatap alam yang mengitarinya, adat istiadat yang hidup padanya, bahkan cara-cara berkelakar masyarakatnya. 

Ya, ia dan bangsa ini telah terlupa pada warisan pusaka nan bermutu. Penuntun bagi siapa saja yang mengedepankan kekaisaran jernih dari akal. 

Pantun Bunga Suntingan


Kepala bergoyang mendengar lagu
lagu tembang irama spanyola
walaupun resah hati menunggu
menunggu kekasih jauh di mata

Bola mata sinar cahayanya
lesung pipi disudut wajahnya
rona merona putih kulitnya
ingin dipetik siapa yg punya

Bermain pantun belajar sastra
sastra dikemas penuh pujangga
wajah nan indah seperti apa
karena bunga kulihat semua

Wajah nan elok kembang teratai
hiasan abstrak merah nan muda
ingin kulihat wajah dibingkai
tiada terlihat rupa adinda

Bijak ditulis tutur bahasa
merangkai semua pantun jenaka
hasrat ingin berjumpa sidia
walaupun jauh di jakarta

Tiga warna merah muda
bunga hiasan lotus namanya
orangnya gigih tiada menyerah
ilmunya pandai ramah orangnya

Menulis pantun tiada berhenti
ilham datang silihberganti
salam rindu selalu kuberi
walaupun hati tiada kumengerti

...

Hitam hitam sikulit manggis
pohon rambutan banyak serangga
wajah murung karena nangis
nangis tak dapat gula gula getah

Pulang kerja duduk bersandar
melepas penat sehari kerja
lebih baik banyak bersabar
kalau marah pasti cepat tua

Beli rujak didepan rumah
sebungkus buat tetangga sebelah
kalau marah mukanya merah
baik tersenyum nampak giginya

Asam peda si ikan merah
potong badan ambil kepala
wajahnya cantik kalau tertawa
jangan kuat kuat dimarah tetangga

Mandi sore dekat perigi
membawa baldi handuk tuala
kemana pulak kawanku pergi
rindu juga tidak bersua

...



Patah tumbuh hilang berganti
hilang satu tumbuh seribu
kemana harus kumencari
kekasih hati slalu membisu

Lama tersimpan dalam lemari
barang kenangan tersusun rapi
walau sendi tidak sakit lagi
tapi sakit saat kau menghilang pergi

Angin bertiup dimusim utara
tiada nelayan pergi kelaut
tiada kata yg dapat berbicara
tiada pula yg dapat kuturut

Hujan turun begitu lebat
bumi basah karena kering
hati gelisah sungguh hebat
menahan cinta tiada beriring

Lemah rasa sekujur diri
sakit tiada dapat terobati
tak kuasa dapat menahan diri
menangis dalam dimalam sepi

Melepas tali gayung bersambut
duduk merengung didalam kamar
hati menangis tersungut sungut
kekasih hati sudah dilamar

...

Kecamba tumbuh sebutir kacang
tergenang air tumbuh memanjang
jangan dicari sesuatu yang hilang
jika yang hilang tidak berpancang

Menoreh getah dipohon mangga
lampu dipasang diatas kepala
mengenang duka di waktu susah
susah karena hati tak bicara

Serbuk intan penggosok batu
batu pualam berrwarna biru
banyak bicara agar kutahu
duka yang hadir seperti sembilu

Menanam jagung ditanah datar
bibit ditanam berhektar hektar
lihat wajahmu karena tak sabar
walaupun jantung selalu berdebar

Pedang samurai bertangkai panjang
dikepang benang daun ilalang
terkenang akan si ikal mayang
rindu datang tiada diundang

Kiriman kain berbaju batik
kain disulam sari india
tiada kata dapat kupetik
berat rasanya ingin bicara

...

Letak letak kayu diletak
letak kayu diatas tumpukan
rindu hati jantung berdetak
ingin berjumpa dalam pelukan

Bermain congkak berbuah batu
permainan zaman diraja dahulu
hatiku rindu tapi malu
malu menahan rindu slalu

Bulan haji menunggu hari
sepakat mufakat menyusun janji
meminang istri dibulan haji
ijab kabul didepan tok kadi

Indah bersama mengikat janji
janji dibuat dua sejoli
alangkah indah mempunyai istri
istri yg baik sampai mati

Pinang dimakan dgn sirih
dicambur kapur sedikit gambir
wajahmu cantik putih berseri
lupa makan sering berpikir


...

Ada sejarah terselip di antara pantun, tentang pikiran-pikiran nenek moyang yang dibaluri kearifan. Gadis itu terpesona karena pantun adalah sebutir pasir yang bisa menjelaskan kehidupan suatu  bangsa. Ia seolah dapat menatap alam yang mengitarinya, adat istiadat yang hidup padanya, bahkan cara-cara berkelakar masyarakatnya.

SAJAK


Tatkala
malam beranjak
bergerak
tiada bergeser
tatkala
kita menoleh
bulan sudah berpindah haluan
bulan tiada mungkir
bulan tiada berbohong
hiasan bintang
titik titik dipenghujung noktah
gemerlap cahaya biasnya
jauh diujung langit
pelan bergerak dengan pasti
alam berbicara
alam bercerita
alam memuji
tiada kudengar
desiran angin
tiada kudengar
kodok bernyanyi
semua diam sebagai saksi
tentang jagat alam ini
maha besar allah
dengan segala ciptaannya


(Goresan pena,Ir.Hoerickie Mashur)

 

Senja ......
bening lembayung
tidak berkabut
hening cerah
menyongsong malam
tiada gundah
terkoyak oleh
bayang bayang kelam
aku disini
duduk merenung
menanti dan menanti
waktu yg akan berlalu
jemari tanganku
lemas gemulai
memetik dawai
aku masih setia
mengharapmu
menunggu
dan menunggu
bujuk rayumu


(Goresan pena,Ir.Hoerickie Mashur)

...

Selangkah demi selangkah
kususuri jalan
turun dan mendaki
berbukitan dan berbatuan
walau lelah dan keringat
membasahi wajahku
fajar mulai menyingsih
udara dingin mulai menjalar
merambat
siang berganti malam
berterbangan hewan kecil
nan liar
menyambut malam
alam sejuk
damai dan keheningan
kelopak mata
daun berguguran
berganti yg baru
baru dan terus baru
jasmani dan rohaniku


(Goresan pena,Ir.Hoerickie Mashur)

...


Note: Semua pantun dan sajak merupakan buah karya Ir. Hoerickie Mashur


Malam ini, sebelum mata letih mengistirahatkan dirinya, gadis itu menuliskan kembali catatannya yang dibalur kerinduan.




Related Posts

Previous
Next Post »